SPIDER-MAN: BRAND NEW DAY (2026)
Tom Holland (Peter Parker / Spider-Man), Zendaya (MJ), Jacob Batalon (Ned Leeds), Mark Ruffalo (Bruce Banner / Hulk), Jon Bernthal (Frank Castle / The Punisher), Sadie Sink (Jean Grey), Michael Mando (Mac Gargan / Scorpion)
Sutradara: Destin Daniel Cretton | Penulis: Chris McKenna, Erik Sommers | Genre: Action, Adventure, Fantasy | Sinematografi: Brett Pawlak | Musik: Michael Giacchino
Setelah kejadian No Way Home, Peter Parker menjalani hidup sendirian sebagai Spider-Man, sementara semua orang yang pernah dekat dengannya sudah melupakan keberadaannya. Ketika sejumlah villain baru mulai mengacaukan New York, Peter terpaksa menghadapi ancaman yang bukan cuma menguji kekuatannya, tapi juga sisi gelap dalam dirinya.

Hampir 6 tahun setelah Spider-Man: No Way Home tayang, kini dunia sudah banyak berubah. Pandemi udah lewat, AI sekarang sibuk mengacak-acak berbagai industri dan Hollywood ikut kena pukulannya, lalu MCU sendiri sudah melewati fase naik, turun, bingung, turun lagi, lalu sekarang sibuk bongkar-pasang ulang mainannya.
Tapi di New York-nya Peter Parker, hidup masih gitu-gitu aja.
Peter (Tom Holland) masih berusaha menjalani hidup dengan prinsip “great power comes with great responsibility“. Villain masih bermunculan. Spider-Man masih nyeletuk asbun sambil mukulin penjahat. Dan urusan percintaan? betul, tetap menyedihkan. MJ (Zendaya) sekarang tidak ingat Peter gara-gara mantra Doctor Strange di film sebelumnya. Ya kita sama-sama tahu betapa ribetnya hidup pemuda ini..
Ini juga sudah film Spider-Man kesembilan kalau dua film animasinya yang whole different level tidak dihitung. Jadi rasanya agak lucu kalau film ini masih harus menjelaskan lagi dunia Peter Parker seolah-olah kita semua baru bangun dari koma.
Makanya setengah jam pertama Brand New Day cukup mengejutkan.

Destin Daniel Cretton sang sutradara langsung tancap gas. Film dibuka dengan rangkaian aksi yang ditemani lagu “Wolf Like Me” dari TV on the Radio. Spider-Man melompat dari satu gedung ke gedung lain, berantem dengan banyak villain, lalu kembali melayang di antara gedung Manhattan.
Untuk beberapa menit, ini adalah Spider-Man yang punya nyawa khususnya cata Peter kembali ke street level.
Cretton punya mata yang cukup tajam untuk menangkap gerakan Spider-Man. Ada bobot dalam adegan berantemnya. Spidey tidak cuma terlihat seperti CGI yang dilempar dari satu titik ke titik lain.
Scorpion muncul. Tombstone muncul. The Hand ikut muncul, sekumpulan ninja yang rasanya seperti nyasar dari film DC dan belum sadar mereka salah studio. Lalu ada Frank Castle alias The Punisher (Jon Bernthal), yang masih punya kemampuan untuk membuat satu kalimat biasa terdengar seperti dia sedang merencanakan pembunuhan. Bagian ini fun.
Lalu… kita ingat durasi filmnya masih panjang.
Dan Brand New Day perlahan kembali menjadi Same Old Days.

Film ini punya villain baru yang diperankan Sadie Sink. Identitasnya disembunyikan dengan penuh gaya misterius, tapi semakin lama malah makin kelihatan seperti karakter yang dimasukkan karena Marvel butuh jembatan menuju film berikutnya.
Ketika identitasnya akhirnya dibuka, Marvel sepertinya mengharapkan penonton teriak atau setidaknya melongo akibat terkejut.
Namun reaksi yang timbul ke penonton malah lebih seperti, “Oh… gitu ya, udah ketebak dari jaman promo filmnya kok.”
Bukan salah penontonnya juga. Filmnya sendiri sudah terlalu sibuk menanam benih untuk masa depan sampai lupa menyiram cerita yang sedang tumbuh sekarang.
Peter juga harus berurusan dengan MJ dan Ned (Jacob Batalon), terutama dengan kenyataan bahwa dua orang yang dulu sangat dekat dengannya sekarang tidak mengingat hubungan mereka. Ini seharusnya menjadi bagian paling emosional dari film.
Sayangnya, adegan-adegannya kepanjangan dan dialognya kadang seperti sedang menjelaskan tugas kelompok yang sebenarnya semua orang sudah mengerti.

Chris McKenna dan Erik Sommers tahu cara menulis Peter Parker. Mereka sudah melakukannya berkali-kali. Tapi kali ini naskahnya terlalu sering berhenti untuk menjelaskan perasaan karakter, padahal kadang cukup kasih mereka ruang untuk ngobrol dan biarkan penonton menyimpulkan sendiri.
Tema utama filmnya juga lumayan menarik. Peter harus berhadapan dengan sisi monster dalam dirinya. Masalahnya, film terus mengunyah tema tersebut sampai tidak ada lagi yang bisa dikunyah.
Dan ketika masuk ke aksi di babak akhir, Cretton yang tadi sempat menjanjikan sesuatu akhirnya ikut terseret ke formula Marvel yang sudah familiar. Beton-beton hancur. Gedung roboh. Tubuh mental. CGI murah hasil karyawan Marvel yang makin malas ngedit memenuhi layar.
Yang tadinya punya energi akhirnya berubah menjadi bubur efek visual.
Spider-Man seharusnya menjadi salah satu superhero paling menyenangkan untuk ditonton. Dia gesit, akrobatik, dan punya bahasa tubuh yang khas. Tapi di sini durasi panjang justru membuat aksi yang seharusnya spektakuler mulai terasa seperti pekerjaan lembur.
Tom Holland memang masih sangat oke sebagai Peter. Diusia 30 tahun, kini dia punya pesona yang berbeda dari Tobey Maguire dan Andrew Garfield. Peter versi Holland tetap punya sisi polos, awkward, dan sedikit bodoh yang membuatnya gampang disukai. Masalahnya, Holland kali ini diberi materi yang tidak cukup kuat untuk ditarik sendirian.
Untungnya Jon Bernthal dan Sadie Sink cukup membantu. Bernthal masih bisa menghidupkan film hanya dengan muka ganas dan suara seraknya, sementara Sadie Sink memberi sedikit napas pada bagian film yang mulai kehilangan momentum.
Beberapa pemain MCU juga muncul. Tidak akan saya sebut namanya karena spoiler. Mereka semua dapat momen masing-masing. Tentu saja.
Tapi begitu film selesai, ada satu perasaan yang cukup mengganggu.
“Jadi… tadi Spider-Man ngapain aja?”
Beberapa jam dihabiskan bersama Peter Parker, lalu setelah semuanya selesai, kita keluar bioskop dengan ingatan yang hampir ikut terhapus.
Spider-Man: Brand New Day bukan film Spider-Man yang jelek-jelek amat, tapi jauh dari kata bagus. Setengah jam pertamanya memang cukup menjanjikan. Cretton menunjukkan bahwa dia punya ide soal bagaimana membuat Spider-Man beraksi dengan cara yang lebih hidup.
Sayangnya, setelah itu film kembali masuk ke jalur Marvel yang sudah terlalu dikenal. Terlalu banyak setup, terlalu banyak penjelasan, terlalu banyak CGI post Eternals yang terkenal busuk, dan terlalu sedikit alasan kenapa semua ini harus berlangsung selama lebih dari dua jam.
Judulnya Brand New Day, tapi isinya kurang lebih seperti mengulang hari yang sama lagi






Leave a Reply