Review – The Invite (2026)

THE INVITE (2026)

Seth Rogen (Joe), Olivia Wilde (Angela), Edward Norton (Hawk), Penelope Cruz (Pina)

Sutradara: Olivia Wilde | Penulis: Rashida Jones, Will McCormack | Genre: Comedy, Drama, Romance | Adaptasi Dari : Film “Sentimental” (2020) karya Cesc Gay | Sinematografi: Adam Newport-Berra | Musik: Devonte Hynes


Joe dan Angela adalah pasangan suami istri yang hubungannya mulai retak. Joe merupakan musisi yang kariernya tidak banyak berkembang, sementara Angela mulai merasa bosan dengan kehidupan rumah tangga yang terasa monoton. Di tengah hubungan mereka yang semakin renggang, keduanya tertarik pada Hawk dan Pina, tetangga yang tinggal di apartemen lantai atas. Berbeda dengan mereka, Hawk dan Pina terlihat menjalani hidup dengan lebih bebas dan spontan. Ketika Joe dan Angela mengundang mereka makan malam, apa yang awalnya dimaksudkan sebagai pertemuan santai perlahan berubah menjadi malam yang penuh ketegangan. Perbincangan mereka mulai membuka berbagai masalah dalam hubungan masing-masing, sementara rahasia yang selama ini disimpan akhirnya muncul ke permukaan. Seiring suasana semakin tidak nyaman, Joe dan Angela mulai menyadari bahwa kehidupan Hawk dan Pina tidak sesempurna yang mereka bayangkan, dan ternyata ada lebih banyak kesamaan di antara kedua pasangan ini daripada yang mereka kira.


Premis The Invite cukup sederhana, hanya tentang sebuah dinner party yang perlahan berubah menjadi kacau. Namun, Rashida Jones dan Will McCormack menulis dialog yang jauh lebih tajam dan jujur dari yang mungkin kita bayangkan. Film ini bukan sekadar komedi tentang dua pasangan yang canggung menghabiskan malam bersama, tetapi juga melihat bagaimana orang sering berpura-pura baik-baik saja, bahkan ketika mereka sendiri tahu ada sesuatu yang salah. Joe masih menyimpan kepahitan karena karier musiknya tidak berjalan seperti yang ia harapkan, sementara Angela mulai lelah dengan kehidupan rumah tangga yang terasa monoton. Di sisi lain, Hawk dan Pina yang awalnya terlihat seperti pasangan ideal dengan kehidupan yang bebas dan spontan ternyata juga memiliki masalah mereka sendiri.

Ada nuansa melankolis yang membuat The Invite terasa lebih dari sekadar komedi rumah tangga. Di balik percakapan dan situasi canggungnya, film ini berbicara tentang penyesalan, keputusan yang sudah terlanjur diambil, serta kehidupan yang mungkin tidak berjalan sesuai harapan. Ketika keempat karakter mulai lebih terbuka satu sama lain, mereka juga dipaksa melihat kembali pilihan-pilihan yang selama ini mereka coba abaikan. Humor tetap menjadi bagian penting, tetapi film ini cukup jujur untuk menunjukkan bahwa di balik hubungan yang terlihat baik-baik saja, selalu ada masalah yang mungkin tidak pernah benar-benar diselesaikan.


Keputusan untuk memilih mempertahankan seluruh cerita di satu lokasi saja di dalam apartemen Joe dan Angela, menjadi kekuatan sekaligus tantangan tersendiri bagi film. Di satu sisi, ruang yang terbatas ini menciptakan keintiman yang membuat setiap momen tidak nyaman terasa semakin membuat sesak, setiap keheningan yang canggung, setiap pengakuan yang meluncur begitu saja, hingga ketegangan yang terus menumpuk seolah tidak punya jalan keluar. Rasanya seperti sedang mengintip lewat jendela ke dalam kehidupan rumah tangga orang lain yang berantakan dan sangat privat, dan pendekatan itu berhasil dengan sangat efektif. Format latar yang terasa seperti panggung teater ini memang kadang membuat ritmenya terasa agak kaku. Namun sebagai sutradara, Olivia Wilde menunjukkan kematangannya dengan ia tahu persis kapan sebuah adegan harus dibiarkan mengalir apa adanya dan kapan tensi komedi atau momen tegang harus dinaikkan. Tantangan terbesarnya muncul di babak akhir, saat resolusi cerita datang terlalu rapi untuk ukuran film yang sebelumnya begitu jujur memotret kerumitan hubungan manusia. Setelah kita diajak menelusuri wilayah konflik yang begitu pelik, penyelesaian akhirnya terasa terlalu dipoles dan terlalu terburu-buru merangkum semuanya. Mungkin bisa sangat menyentuh bagi sebagian penonton, tetapi terasa klise bagi yang lain.


Keempat pemeran utamanya benar-benar jadi nyawa yang bikin film ini hidup. Seth Rogen tampil luar biasa sebagai Joe. Meski tetap membawakan sarkasme dan rasa frustrasi yang jadi ciri khasnya, ia berhasil menyusupkan kesedihan yang begitu mendalam di balik tawa pahit dan tatapan matanya yang sinis. Kita bisa merasakan beban berat seorang pria yang merasa hidupnya jauh dari ekspektasi. Di sisi lain, Olivia Wilde tampil sama kuatnya sebagai Angela, dia menghindari jebakan untuk membuat karakternya terlihat neurotic atau annoying, dan justru menunjukkan seseorang yang memiliki semua desire untuk reinvent herself. Edward Norton juga sangat memukau lewat karisma santai yang langsung memikat, tapi ia cukup cerdas menyisipkan celah-celah pria melankolis di balik sikap bebasnya itu. Penelope Cruz melengkapinya sebagai Pina dengan ketegasan yang membuat karakternya terasa sangat nyata, jauh dari sekadar klise wanita latin yang eksotis. Chemistry di antara mereka berempat terasa begitu organik dan meyakinkan, membuat kita percaya bahwa dalam satu malam yang sama, mereka bisa saling menjengkelkan sekaligus saling tertarik satu sama lain.


Secara visual, sinematografi Adam Newport berhasil menemukan komposisi yang menarik di tengah ruang yang terbatas. Pencahayaan juga bekerja dengan baik dalam mengubah suasana, dari kehangatan komedi menjadi keheningan yang lebih reflektif, tanpa terasa dipaksakan. Ada kehangatan dalam palet warna interiornya. Apartemen Joe dan Angela bukan sekadar tempat berlangsungnya cerita, tetapi seperti cermin dari kepribadian dan ketegangan di antara keduanya. Sementara itu, musik karya Devonte Hynes mampu mendukung suasana film. Hanya saja, ada beberapa bagian ketika musik terasa terlalu menonjol, seolah tidak cukup percaya bahwa akting dan naskahnya sendiri sudah mampu menyampaikan emosi yang dibutuhkan.


Pada akhirnya, The Invite adalah sebuah adaptasi yang sangat layak, jujur, dan relatable. Yang membuat film ini bisa membekas pada kita penontonnya adalah kejujurannya yang bikin tidak nyaman. Film ini berani begitu rumitnya cara kita mencintai seseorang, cara pura-pura bahagia, tentang pilihan untuk bertahan atau pergi, dan tentang apa saja yang rela kita korbankan demi sebuah impian yang mungkin sejak awal tidak pernah benar-benar nyata.

Olivia Wilde dan seluruh jajaran pemain berhasil menghadirkan sesuatu yang benar-benar menyentuh. Ini adalah film yang bisa membuat kita tertawa, lalu tiba-tiba diam, dan lalu merasa bersalah karena sempat tertawa di momen tertentu.