OBSESSION (2026)
Michael Johnston (Bear), Inde Navarrette (Nikki), Cooper Tomlinson (Ian), Megan Lawless (Sarah), Andy Richter (Carter)
Sutradara: Curry Barker | Penulis: Curry Barker | Genre: Horror, Romance, Thriller | Sinematografi: Taylor Clemons | Musik: Rock Burwell
Bear, seorang pria yang sudah lama memendam perasaan pada sahabatnya, Nikki, nekat menggunakan benda misterius bernama “One Wish Willow” untuk mewujudkan keinginannya agar Nikki mencintainya melebihi apapun yang ada di dunia ini. Namun ketika keinginannya benar-benar terkabul, hubungan mereka justru berubah menjadi sesuatu yang semakin aneh dan mengerikan. Apa yang awalnya terlihat seperti kesempatan untuk mendapatkan cinta perlahan berubah menjadi mimpi buruk tentang obsesi cinta mati Niki pada Bear, dan hilangnya kendali atas diri sendiri. Bear akhirnya harus berhadapan dengan konsekuensi dari keinginannya, sementara Nikki mulai mengalami perubahan yang membuat hubungan mereka semakin jauh dari fantasi romantis yang selama ini dia bayangkan.

Ada sesuatu yang memang cukup menyeramkan dari dicintai dengan alasan yang salah. Bukan karena orang tersebut benar-benar mengenal kita, tapi karena perasaannya tumbuh dengan cara dipaksa, dan dia wajib menjadi jawaban atas kesepian kita. Obsession mengambil ide yang sebenarnya sudah sering kita lihat dalam cerita romance, lalu membelokkannya menjadi sesuatu yang jauh lebih creepy.
Bear adalah seorang pria yang sudah lama menyukai Nikki, sahabatnya sendiri. Masalahnya, dia tidak mau mengambil risiko untuk mengetahui apakah perasaannya benar-benar berbalas. Jadi ketika muncul kesempatan menggunakan “One Wish Willow”, Bear memilih jalan pintas. Dia berharap Nikki akhirnya mencintainya. Simple, kan? Ya, tentu saja tidak. Karena begitu keinginan itu terkabul, filmnya mulai memperlihatkan betapa mengerikannya cinta ketika pilihan seseorang sudah diambil paksa.
Yang menarik, Obsession tidak membuat Bear sebagai monster yang dari awal kelihatan jahat. Dia justru awkward, insecure, dan kelihatan seperti pria biasa yang sedang hopelessly in love. Masalahnya, di balik semua itu ada rasa entitled yang makin lama makin kelihatan. Bear bukan cuma ingin dicintai. Dia ingin kepastian. Dia ingin menghilangkan kemungkinan ditolak, rasa malu, dan semua ketidaknyamanan yang memang menjadi bagian dari hubungan manusia.
Dan menurut saya, di sinilah film ini paling kena.
Karena sebenarnya Bear sudah punya sesuatu dengan Nikki. Mereka dekat, bisa bercanda, nyaman satu sama lain, dan hubungan mereka terasa jauh lebih tulus daripada hasil wish tersebut. Tapi Bear tidak cukup sabar untuk membiarkan semuanya berkembang sendiri. Dia ingin shortcut. Dia ingin hasil akhirnya tanpa harus melewati prosesnya.
Masalahnya, cinta bukan aplikasi yang tinggal di-install lalu beres.

Dari sisi cerita, premis seperti ini gampang banget jatuh menjadi horror gimmick. Cowok pakai sihir, cewek berubah aneh, lalu semua orang lari-larian. Untungnya Curry Barker punya ide yang lebih menarik. Dia menjadikan wish tersebut bukan sebagai sumber masalah utama, tapi sebagai alat untuk membongkar masalah yang memang sudah ada dalam diri Bear.
Pacing-nya juga cukup sabar. Film tidak buru-buru mengeluarkan semua kartu. Perubahan Nikki datang sedikit demi sedikit, sehingga kita punya waktu untuk merasa bahwa ada sesuatu yang semakin salah. Ada beberapa bagian yang menurut saya bisa dipotong, terutama ketika film mulai terlalu sibuk menjelaskan mitologi wish-nya. Babak ketiga juga sesekali terasa seperti sedang menginjak gas dan rem secara bersamaan. Tapi secara keseluruhan, ritmenya masih berhasil menjaga rasa tidak nyaman yang dibangun sejak awal.
Dan yang paling penting, Obsession tidak lupa bahwa horror juga bisa lucu.
Ada momen yang absurd dan genuinely funny, kemudian tiba-tiba filmnya berubah menjadi disturbing. Beberapa perpindahan tone memang terasa agak brutal, tapi justru itu yang membuat pengalaman menontonnya tidak terlalu gampang ditebak.
Curry Barker kelihatan sangat percaya diri dengan materi yang dia punya. Dia tidak merasa harus membuat setiap adegan besar atau bombastis hanya supaya terlihat “horror”. Barker justru lebih sering menahan diri dan membiarkan situasinya bikin kita tidak nyaman dengan sendirinya.
Blocking-nya diperhatikan. Dia tau kapan kamera harus diam. Editing-nya tidak terlalu sibuk. Dan ketika film ingin membuat kita menunggu sesuatu terjadi, Curry Barker benar-benar membiarkan kita menunggu.
Ini penting karena banyak film horror sekarang seperti takut kalau penonton sempat bernapas selama lima detik. Sedikit-sedikit jumpscare, sedikit-sedikit sound kelewat keras, lalu sesuatu dilempar ke kamera. Obsession lebih sabar dari itu. Kadang kita tahu ada sesuatu yang salah, tapi filmnya sengaja tidak langsung menunjukkannya.
Curry Barker juga cukup pintar dalam menjaga sudut pandang Bear. Kita cukup dekat dengannya sampai beberapa keputusan buruk yang dia ambil terasa bisa dipahami. Tapi film tidak pernah sepenuhnya membiarkan kita melupakan bahwa semua ini terjadi karena dia memilih jalan yang salah.
Namun kalau ada satu orang yang benar-benar mencuri film ini, jawabannya jelas Inde Navarrette.

Michael Johnston tampil cukup solid sebagai Bear. Dia punya kualitas awkward dan anxious yang cocok dengan karakter ini. Ada beberapa momen ketika kita benar-benar merasa kasihan kepadanya, meskipun kita tahu dia sedang melakukan sesuatu yang sangat egois. Dan itu bukan hal gampang untuk dimainkan. Bear harus terasa manusiawi tanpa membuat tindakannya terlihat bisa dibenarkan.
Tapi Inde Navarrette bermain di level yang berbeda.
Perubahan Nikki menjadi salah satu hal terbaik dalam film ini. Dia tidak langsung berubah menjadi karakter horror yang over-the-top. Semuanya dimulai dari hal-hal kecil. Cara berdiri. Cara melihat. Cara berhenti bicara. Bahkan jeda sebelum menjawab sesuatu. Semakin lama, semakin terasa ada yang salah.
Inde Navarrette punya kontrol tubuh yang luar biasa di sini. Ada sensasi bahwa Nikki masih terlihat seperti Nikki, tetapi sesuatu di dalam dirinya sudah tidak sepenuhnya berada di tempatnya. Dan itu jauh lebih disturbing daripada sekadar makeup menyeramkan atau efek visual yang heboh.
Secara visual, Obsession juga tahu bagaimana memanfaatkan ruang dan atmosfer. Tidak perlu membuat setiap frame kelihatan seperti lukisan horror mahal. Justru sering membiarkan ruang terasa biasa, sehingga ketika sesuatu yang aneh mulai masuk ke dalamnya, efeknya terasa lebih mengganggu.
Practical effects-nya juga patut diapresiasi. Ketika film akhirnya memutuskan untuk menjadi lebih brutal, hasilnya cukup nasty. Tapi lagi-lagi, Curry Barker tidak terlalu bergantung pada gore. Beberapa adegan yang paling menempel justru adegan ketika hampir tidak ada apa-apa yang terjadi.

Pesan yang ingin disampaikan Obsession berhasil tersampaikan karena dia tidak cuma bertanya, “Seberapa jauh seseorang akan pergi demi mendapatkan cinta?” Film ini punya pertanyaan yang jauh lebih tidak nyaman: “Apa yang terjadi ketika kita lebih mencintai bayangan seseorang yang kita ciptakan sendiri, daripada dirinya yang sebenarnya?”
Bear sebenarnya sudah punya hubungan yang berarti dengan Nikki. Tapi dia terlalu sibuk mengejar bentuk cinta yang dia inginkan sampai lupa bahwa Nikki adalah manusia yang punya pilihan sendiri.
Itulah yang membuat film ini terasa lebih menyedihkan daripada sekadar menyeramkan.
Obsession memang tidak sempurna. Ada beberapa penjelasan yang terasa terlalu gamblang, pacing di bagian akhir sedikit goyah, dan saya masih merasa pengalaman Nikki seharusnya bisa digali lebih jauh.
Saya suka ketika horror punya nilai yang bisa dibawa pulang. Bukan cuma adegan gore atau jumpscare yang kemudian hilang begitu keluar dari bioskop. Obsession meninggalkan ide yang cukup mengganggu tentang cinta, rasa memiliki, dan betapa tipisnya batas antara ingin dicintai dengan ingin mengontrol seseorang.
Saya masuk dengan ekspektasi bakal mendapatkan horror supernatural dengan premis yang cukup unik.
Ternyata saya malah mendapatkan film tentang pria yang tidak bisa menerima kemungkinan ditolak, lalu memutuskan bahwa solusi terbaiknya adalah mengambil alih perasaan orang lain.
Ya, kedengarannya sudah seperti resep bikin bencana untuk diri sendiri.
Dan memang begitu.





Leave a Reply