Attack on Titan (2013-2023) – Review | Manusia Bisa Jadi Iblis Jika Punya Power

Ada rasa sedih yang agak susah dijelasin ketika Attack on Titan akhirnya selesai di 2023 lalu.

Saya mulai nonton anime ini di 2013. Sepuluh tahun. Sepuluh tahun itu bukan waktu yang sebentar. Dalam rentang selama itu, banyak hal berubah, banyak anime maupun series datang dan pergi, ceritanya selesai lalu saya lupakan. Tapi Attack on Titan selalu terasa seperti sesuatu yang tumbuh di salah satu bagian otak ini. Setiap season datang di fase hidup yang berbeda, dan tanpa sadar saya ikut berubah bersama ceritanya.

Makanya ketika episode terakhir tayang, rasanya bukan cuma seperti selesai menonton anime. Rasanya kayak ditinggal pacar, terus tahu hubungan itu memang sudah seharusnya berakhir, tapi tetap saja ketika benar-benar berakhir rasanya sakit. Bukan karena kita tidak tahu ending-nya akan datang, tapi karena selama sepuluh tahun kita sudah terbiasa menunggu episode berikutnya. Menunggu season baru. Menunggu jawaban rasanya kayak digantungin. Menunggu siapa lagi yang bakal mati. Menunggu apa yang sebenarnya ada di basement. Menunggu Eren menemukan kebebasannya.

Tiba-tiba semuanya selesai.

Dalam realita, dunia tetap berjalan seperti biasa.


Anime bagus ada banyak. Bahkan mungkin ada anime yang secara teknis lebih sempurna. Tapi tidak banyak yang bisa memberikan perasaan seperti Attack on Titan. Ada sesuatu tentang perjalanan sepuluh tahunnya yang membuat serial ini terasa bukan sekadar tontonan, tapi bagian dari hidup.

Karena itu, ketika saya mencoba rewatch lagi Attack on Titan sekarang, saya tidak cuma melihat sebuah anime tentang Titan, perang, atau Eren Yeager. Saya melihat perjalanan panjang yang dimulai dari seorang anak yang ingin membunuh semua Titan, lalu perlahan berubah menjadi cerita tentang manusia, sejarah, trauma, kebencian, kebebasan, dan betapa mengerikannya ketika manusia mulai percaya bahwa kehancuran adalah satu-satunya jalan keluar.

Dan mungkin itu alasan kenapa sampai sekarang rasanya masih sedikit sakit.

Sepuluh tahun terlalu lama untuk sekadar bilang, “yaudah, animenya tamat.”

Attack on Titan pergi pada 2023. RIP

Dan saya rasa sebagian dari diri saya masih duduk di ruang TV, menatap ending credit terakhirnya, sambil berharap ada satu episode lagi..

Ini salah satu sedikit serial yang setelah selesai justru bikin saya makin banyak mikir. Bukan cuma soal plot, siapa yang mati, siapa yang ternyata Titan, atau bagaimana Eren bisa sampai menjadi monster. Yang bikin Attack on Titan susah dilepas justru karena semakin saya faham ceritanya, semakin terasa bahwa dari awal serial ini tidak pernah benar-benar bercerita tentang manusia melawan Titan.

Titan cuma permukaannya.

Di bawahnya ada cerita tentang manusia, sejarah, propaganda, trauma masa kecil, nasionalisme, dendam, kebebasan, dan betapa gampangnya manusia meyakinkan dirinya sendiri bahwa kekerasan yang dia lakukan adalah sesuatu yang benar karena punya alasan. Apakah ini yang ada di otak Netanyahu???

Kreatornya, Hajime Isayama, membangun semua itu dari sebuah premis yang awalnya kelihatan sangat sederhana: manusia hidup di balik tembok karena di luar sana ada monster yang ingin memakan mereka.

Ternyata kita yang salah mengira siapa monsternya.

Dari survival horror menjadi tragedi kebangsatan manusia itu sendiri.

Episode pertama Attack on Titan mungkin salah satu contoh episode pilot paling dramatis tentang bagaimana sebuah serial setting tone dan memperkenalkan dunianya.

Kita diperlihatkan manusia yang hidup seperti tahanan. Ada tiga tembok raksasa. Ada masyarakat yang sudah menerima bahwa dunia mereka memang sesempit itu. Ada militer, ada ketakutan, ada Titan di luar sana siap makan orang siapapun yang melintas keluar tembok.

Lalu ada Eren Yeager, muncul sebagai satu-satunya orang yang kelihatannya benar-benar tidak bisa menerima keadaan tersebut.

Buat Eren, hidup di balik tembok bukan kehidupan. Itu cuma bentuk lain dari penjara.

Dia ingin melihat laut, gurun, salju. Dunia yang selama ini cuma dia kenal dari buku milik sahabatnya, Armin.


Dan ketika keinginan bebas itu ada…

Colossal Titan muncul.

Tembok jebol.

Rumah hancur.

Para titan masuk dan mulai membantai semua orang.

Dan Eren melihat ibunya dimakan Titan.

Sederhana. Brutal. Efektif.

Dari situ lahir motivasi Eren: membunuh semua Titan.

Kalau berhenti sampai sini pun, Attack on Titan sebenarnya sudah bisa menjadi shonen action yang sangat bagus. Tapi Isayama punya ambisi yang jauh lebih besar.

Karena setelah bertahun-tahun membangun cerita tentang manusia melawan monster, dia tiba-tiba menarik karpet dari bawah kaki kita dan berkata:

“Monster itu sebenarnya manusia juga.”

Dan sejak titik itu, seluruh cerita berubah.


Khusus untuk yang tidak pernah kena spoiler lewat manga seperti saya, dan untungnya saya gapunya teman yang mulutnya bau, gatal kalau gak ngasih spoiler. Saya terkena salah satu twist terbaik yang bukan karena hanya mengejutkan, tapi dari cara Isayama menanam informasi.

Banyak twist khususnya di anime biasa saja karena penulis menyimpan informasi dari penonton.

Attack on Titan berbeda.

Informasinya sering kali sudah diberikan kepada kita. Kita saja yang belum tahu cara membacanya.

Reiner dan Bertolt adalah contoh paling jelas.

Setelah tahu mereka adalah Armored Titan dan Colossal Titan, tiba-tiba adegan-adegan lama berubah makna. Ekspresi mereka berubah makna. Dialog mereka berubah makna. Bahkan detail kecil seperti Reiner tahu tentang ikan herring padahal masyarakat dalam tembok bahkan tidak tahu bahwa lautan itu ada, ternyata bukan dialog random.

Itu clue.

Dan ketika kita melakukan rewatch, kita seperti dibisiki..

“Gue udah kasih tahu dari tadi.”

Itulah yang membuat Attack on Titan begitu satisfying untuk di rewatch. Kita bukan cuma menonton cerita yang sama. Kita menonton cerita yang sama dengan informasi yang berbeda.

Foreshadowing-nya bukan sekedar gimmick untuk membuat penonton berkata “wah ternyata dia jahat.”

Foreshadowing digunakan untuk mengubah perspektif. Dan itu jauh lebih sulit.

Karena twist terbaik bukan yang membuat kita kaget. Twist terbaik adalah yang membuat kita mempertanyakan kembali semua yang sudah kita lihat.


Basement.

Ternyata apa yang ada di basement bukan cuma jawaban. Basement adalah kehancuran sebuah worldview.

Selama tiga season pertama, hampir semua karakter-karakternya sama-sama terobsesi dengan satu hal.

Apa yang ada di basement rumah Grisha?

Semua yang nonton menganggap basement sebagai tempat jawaban.

Titan berasal dari mana?

Apa yang sebenarnya terjadi pada dunia?

Kenapa Reiner dan Bertolt menyerang?

Apa yang ada di luar tembok?

Dan akhirnya kita sampai ke sana.

Ada buku.

Ada foto.

Ada dunia yang jauh lebih besar.

Ada manusia lain.

Ada Marley.

Ada sejarah Eldia.

Dan mendadak semua yang kita percaya selama ini runtuh. Benar-benar salah satu keputusan storytelling terbaik dalam serial ini.

Karena biasanya ketika karakter mendapatkan jawaban, cerita terasa lebih sederhana.

Di Attack on Titan, jawaban justru membuat semuanya jauh lebih rumit. Serumit jawaban pacar ketika ditanya mau makan dimana?

Sebelumnya masalahnya adalah:

“Bagaimana cara manusia membunuh semua Titan?”

Sekarang masalahnya menjadi:

“Kalau manusia di luar sana membenci kita, siapa sebenarnya yang harus kita lawan?”

Dan yang lebih buruk lagi:

“Kenapa mereka membenci kita?”

Ternyata Eldia memang punya sejarah penindasan.

Ternyata Marley memang melakukan propaganda.

Ternyata orang-orang Eldia di luar tembok hidup sebagai kelompok yang didiskriminasi dan dikondisikan untuk membenci identitas mereka sendiri.

Tidak ada pihak yang benar-benar bersih.

Dan ini yang membuat Attack on Titan jauh lebih menarik daripada cerita perang hitam-putih.

—

Tidak ada “villain utama”

Marley bukan sekedar villain.

Eldia juga bukan korban murni.

Reiner bukan pengkhianat.

Eren bukan hero.

Bahkan sejarah sendiri bukan sesuatu yang bisa dengan gampang diberi label benar atau salah.

Setiap pihak punya versi sejarahnya masing-masing.

Eldia punya dosa masa lalu.

Marley menggunakan dosa itu sebagai pembenaran untuk melakukan penindasan terhadap generasi yang bahkan tidak mengalami dosa tersebut.

Orang-orang Paradis dihukum karena sesuatu yang dilakukan nenek moyang mereka ribuan tahun lalu.

Dan ini salah satu gagasan paling mengganggu dalam Attack on Titan.

Seberapa jauh seseorang harus bertanggung jawab atas dosa orang yang bahkan sudah mati sebelum dia lahir?

Jawabannya jelas tidak sederhana.

Karena kalau kita menerima logika bahwa dosa diwariskan berdasarkan darah dan keturunan, maka setiap generasi akan selalu punya alasan untuk membenci generasi berikutnya.

Dan begitulah perang tidak pernah selesai.

Semua orang merasa dirinya sedang membalas sesuatu.

Semua orang merasa dirinya korban.

Semua orang punya alasan.

Dan ketika semua orang punya alasan, kekerasan menjadi sangat gampang dibenarkan.

—

Menurut saya. Reiner mungkin karakter paling tragis di seluruh serial ini. Awalnya Reiner cuma kelihatan seperti senior yang keren.

Kuat. Berani. Protektif.

Semacam kakak bagi pasukan yang masih belia.

Kemudian dia ternyata Armored Titan.

Seketika kita membencinya.

Dia menghancurkan tembok.

Dia ikut menyebabkan kematian ibunya Eren.

Dia membunuh banyak orang.

Dia adalah salah satu alasan seluruh tragedi ini terjadi.

Tapi kemudian series ini melakukan sesuatu yang sangat brutal terhadap penonton.

Kita dipaksa melihat semuanya dari sudut pandang Reiner.

Dan ternyata Reiner juga cuma anak kecil. Dia dibesarkan dalam sistem yang mengajarinya bahwa orang Paradis adalah iblis. Dia ingin menjadi Warrior bukan karena punya ambisi menguasai dunia.

Dia cuma ingin dianggap sebagai pahlawan.

Dia ingin ibunya bangga.

Dia ingin mendapatkan pengakuan.

Lalu dia dikirim sebagai anak ke sebuah pulau untuk membunuh manusia lain.

Dan ketika sampai di sana, dia menemukan bahwa “iblis” yang selama ini diceritakan kepadanya ternyata ya cuma manusia biasa.

Ada anak-anak.

Ada teman.

Ada orang baik.

Ada orang brengsek.

Sama seperti dirinya.

Masalahnya, dia sudah telanjur membunuh mereka.

Jadi Reiner terjebak.

Dia harus menjadi dua orang sekaligus.

Warrior Marley dan Reiner yang menjadi kakak bagi teman-temannya di Paradis. Semakin lama dua identitas itu bertabrakan sampai mentalnya hancur.

Dan di sinilah Attack on Titan berhenti menjadi cerita tentang siapa yang benar dan siapa yang salah.

Karena Reiner bisa menjadi pelaku sekaligus korban.

Eren juga begitu.

Gabi juga begitu.

Semua orang di sini bisa menjadi monster dalam cerita orang lain.


Eren dan Gabi sebenarnya adalah cermin. Gabi pada dasarnya adalah Eren versi lain. Ini salah satu bagian yang menurut saya paling penting dalam keseluruhan cerita.

Eren kecil melihat Titan sebagai monster.

Gabi kecil melihat Paradis sebagai monster.

Eren tumbuh dengan cerita bahwa Titan adalah makhluk yang membunuh manusia.

Gabi tumbuh dengan cerita bahwa Eldian di Paradis adalah iblis yang pernah menghancurkan dunia.

Kemudian keduanya mengalami hal yang sama. Musuh yang mereka benci ternyata terdiri dari manusia.

Masalahnya bukan karena salah satu dari mereka dilahirkan jahat. Masalahnya adalah sejak kecil mereka diberi sebuah narasi.

Narasi itu diulang. Diperkuat. Diajarkan.

Sampai akhirnya mereka percaya bahwa membunuh orang lain adalah tindakan yang benar.

Ini yang membuat Attack on Titan terasa jauh lebih dekat dengan dunia nyata daripada kebanyakan cerita perang di film atau series manapun.

Radikalisasi tidak selalu dimulai dari seseorang yang bangun pagi lalu memutuskan ingin menjadi monster.

Kadang dimulai dari ketakutan.

Kemudian trauma.

Kemudian propaganda.

Kemudian kebencian.

Kemudian sebuah keyakinan sederhana:

“Kalau kita tidak membunuh mereka, mereka akan membunuh kita.”

Dan dari satu kalimat itu, dunia bisa terbakar, angus..


Eren bukan pahlawan yang akhirnya jatuh ke sisi yang salah. Eren memang selalu punya sisi itu

Menurut saya, kesalahan paling salah dalam membaca Eren adalah menganggap Season 4 menciptakan Eren yang baru.

Tidak.

Eren yang melakukan Rumbling adalah Eren yang sudah ada sejak episode pertama. Kita cuma akhirnya melihat sisi dirinya yang selama ini tertutup oleh narasi protagonis.

Anak yang ingin membunuh semua Titan.

Anak yang tidak bisa menerima hidup dalam batasan.

Anak yang membenci dunia karena dunia mengambil kebebasannya.

Anak yang sejak kecil sudah menunjukkan bahwa ketika seseorang mengancam orang yang dia sayangi, responsnya bisa menjadi sangat ekstrem.

Eren selalu punya dua sisi.

Ada kasih sayang.

Ada kemarahan.

Ada keinginan untuk melindungi.

Ada dorongan untuk menghancurkan.

Dan semakin banyak dia tahu, semakin besar kontradiksi tersebut.

Ironisnya, semakin dekat Eren dengan kebebasan, dia semakin nggak bebas.


“Freedom” ternyata jebakan terbesar Eren

Ini mungkin gagasan paling menarik dari keseluruhan ending. Eren menghabiskan hidupnya mengejar kebebasan.

Tapi setelah mendapatkan kemampuan melihat masa lalu dan masa depan, dia justru menjadi tahanan paling parah dalam cerita.

Dia tahu apa yang akan terjadi.

Dia tahu Sasha akan mati.

Dia tahu Ramzi akan mati.

Dia tahu Rumbling akan terjadi.

Dia bahkan tahu teman-temannya pada akhirnya akan melawannya.

Dan semakin dia mencoba menghindari masa depan itu, semakin dia justru ikut menciptakannya. Ini membuat perjalanan Eren terasa seperti lingkaran.

Masa depan memengaruhi masa lalu.

Masa lalu menciptakan masa depan.

Eren melihat sesuatu yang akan terjadi, lalu melakukan tindakan yang justru memastikan sesuatu itu benar-benar terjadi.

Jadi pertanyaan akhirnya bukan:

“Apakah Eren bebas?”

Justru:

“Apa gunanya kebebasan kalau seluruh jalan yang kita pilih sudah menjadi bagian dari takdir?”

Eren ingin bebas dari dunia. Tapi pada akhirnya dia tidak bisa bebas dari dirinya sendiri.


Dan kemudian kita sampai pada tragedi Rumbling. Rumbling bukan sekadar klimaks dari segi action. Rumbling adalah konsekuensi dari seluruh ideologi yang dibangun serial ini sejak awal. Selama bertahun-tahun kita melihat manusia membunuh karena takut dibunuh duluan.

Eldia takut Marley.

Marley takut Eldia.

Paradis takut dunia.

Dunia takut Paradis.

Semua pihak membangun senjata karena takut pihak lain memiliki senjata. Sampai akhirnya Eren berkata:

“Kalau begitu gue aja yang hancurin semuanya.”

Dan ini penting.

Attack on Titan tidak meminta kita menganggap Rumbling sebagai tindakan heroik. Justru sebaliknya.

Eren memang punya alasan. Tapi alasan tidak otomatis membuat tindakannya menjadi benar.

Dia bisa menjadi korban sistem atau produk trauma masa kecil. Dia juga bisa menjadi seseorang yang benar-benar menyayangi teman-temannya.

Dan tetap saja dia melakukan genosida. Dua hal itu bisa benar secara bersamaan.

Justru di situlah kompleksitas karakter Eren berada. Eren adalah korban sekaligus pelaku. Ini yang membuat karakter Eren begitu menarik.

Kalau kita melihatnya hanya sebagai monster, kita kehilangan sebagian besar tragedinya.

Kalau kita melihatnya sebagai pahlawan tragis yang melakukan semuanya demi teman-temannya, kita juga mengabaikan bagian paling mengerikan dari dirinya.

Eren bukan malaikat.

Tapi dia juga bukan monster yang tiba-tiba muncul out of nowhere.

Dia adalah produk dari ribuan tahun sejarah, trauma keluarga, propaganda, perang, ketakutan, dan obsesinya sendiri terhadap kebebasan.

Semakin kita berusaha memahami Eren. Kita mungkin bahkan merasa kasihan kepadanya meskipun dia melakukan genosida.

Ingat sekali lagi…

“Meskipun dia melakukan GENOSIDA”

Apakah ini artinya kita sebagai penonton dan merasa iba pada Eren sebenarnya juga seorang bajingan yang belum diberi power? jadi iblis dalam diri kita belum keluar seutuhnya??

Dan serial ini tidak memberi kita kenyamanan moral dengan mengatakan bahwa semuanya ternyata demi kebaikan.

Eren sendiri pada akhirnya mengakui bahwa bahkan tanpa mengetahui masa depan, ada bagian dalam dirinya yang memang ingin melakukan semua itu.

Itu penting.

Karena kalau semuanya hanya kesalahan takdir, Eren menjadi boneka. Padahal dia bukan boneka sepenuhnya. Dia memilih.

Dan justru pilihan itulah yang menghancurkannya.

Eren sendiri yang bilang bahwa inilah akibatnya jika power diberikan pada seorang tidak kompeten seperti Eren.


Kemudian kita sampai pada Ymir. Ymir dan Eren adalah dua sisi dari luka yang sama.

2.000 tahun.

Budak.

Dieksploitasi.

Diberikan “kebebasan” yang sebenarnya cuma bentuk lain dari perbudakan.

Ymir menghabiskan seluruh eksistensinya terikat kepada Fritz. Dan bahkan setelah mati, dia tetap terikat. Orang bodoh yang terjebak di situasi toxic relationship. Super bucin.

Ini paralel yang sangat kuat dengan Eren. Ymir tidak bisa melepaskan dirinya dari rantai. Eren tidak bisa melepaskan dirinya dari kebebasan yang dia kejar. Dan keduanya hidup dalam paradoks.

Ymir ingin bebas tapi tidak tahu bagaimana cara melepaskan diri dari cinta dan ketergantungannya.

Eren ingin bebas tetapi justru menjadi budak dari masa depan yang sudah dia lihat.

Jadi ketika Mikasa akhirnya mampu melakukan sesuatu yang Ymir sendiri tidak mampu lakukan selama 2.000 tahun, yaitu melepaskan orang yang dia cintai, siklus itu akhirnya bisa berakhir.

Mikasa tidak membunuh Eren karena dia berhenti mencintainya.

Justru sebaliknya.

Dia membunuh Eren karena dia mencintainya tetapi akhirnya memilih untuk tidak menjadi tahanan dari cinta tersebut.

Dan itu yang membebaskan Ymir.


Mikasa sebenarnya punya peran yang jauh lebih penting daripada diberikan kepadanya. Mikasa sepanjang cerita sering dianggap hanya sebagai cewek yang mencintai Eren, dan kebetulan jago berkelahi.

Padahal pada akhirnya hubungan Mikasa dan Eren menjadi sisi paling emosional di ending series ini.

Eren menginginkan dunia tanpa batas.

Mikasa menginginkan Eren.

Dan pada akhirnya Mikasa harus memilih antara orang yang paling dia cintai dengan dunia yang masih tersisa.

Pilihan itu bukan kemenangan.

Tidak ada kemenangan di sini.

Dia kehilangan Eren.

Dunia juga kehilangan jutaan manusia.

Tetapi dengan membunuh Eren, Mikasa memutus satu hubungan yang selama ribuan tahun tidak mampu diputus oleh Ymir.

Itulah kenapa ending Attack on Titan terasa pahit. Siklusnya tidak berhenti karena manusia tiba-tiba menjadi baik.

Siklusnya berhenti karena beberapa orang akhirnya memilih untuk tidak meneruskan kebencian yang diwariskan kepada mereka.


Tapi apakah siklus itu benar-benar berhenti? Tidak. Dan menurut saya, justru ini yang membuat ending-nya bagus. Karena setelah Eren mati, dunia tidak tiba-tiba menjadi damai selamanya.

Ada periode damai.

Teman-temannya hidup.

Mikasa menua.

Teknologi berkembang.

Tetapi kemudian perang datang lagi.

Paradis kembali terlibat dalam konflik.

Peradaban kembali menghancurkan dirinya sendiri.

Dan pada akhirnya kita melihat seorang anak dan seekor anjing menemukan pohon yang mengingatkan kita pada pohon Ymir.

Circle complete.

Apakah Titan akan kembali? Serial ini tidak memberi jawaban eksplisit. Dan memang tidak perlu. Karena inti ending-nya bukan “Titan akan kembali.” Tapi intinya adalah:

Manusia tidak pernah benar-benar belajar.

Kita mungkin mengganti senjata.

Mengganti negara.

Mengganti ideologi.

Mengganti generasi.

Tapi selama manusia masih punya ketakutan, kepentingan, ego, dan kebutuhan untuk merasa dirinya paling bener, konflik akan selalu menemukan bentuk baru.

Itulah kenapa judul Attack on Titan pada akhirnya terasa hampir seperti metafora.

Titan bukan sekedar monster.

Titan adalah manifestasi dari manusia yang kehilangan kendali terhadap kebencian dan keyakinannya sendiri.


Saya rasa alasan Attack on Titan bisa meninggalkan impact sebesar ini bukan cuma karena ceritanya yang kompleks.

Banyak anime atau series lain yang punya cerita kompleks.

Yang membuat Attack on Titan berbeda adalah bagaimana kompleksitas itu akhirnya punya sesuatu untuk dikatakan.

Tentang bagaimana sejarah ditulis oleh pihak yang menang.

Tentang bagaimana propaganda bisa membuat anak-anak membenci anak-anak lain yang bahkan belum pernah mereka temui.

Tentang bagaimana trauma bisa diwariskan.

Tentang bagaimana seseorang bisa melakukan kekejaman sambil percaya bahwa dirinya sedang melakukan hal yang benar.

Tentang bagaimana teknologi yang seharusnya membuat hidup manusia lebih baik bisa berubah menjadi alat pembantaian.

Tentang bagaimana revolusi bisa membebaskan manusia sekaligus melahirkan bentuk kekuasaan baru.

Dan terutama tentang bagaimana manusia selalu aja punya alasan untuk membenci.


Pun begitu, Attack on Titan tidak sepenuhnya nihilistik

Ini yang menurut saya sering terlewat.

Kalau cuma melihat perang dan Rumbling, gampang menganggap serial ini sangat pesimis.

Tapi Isayama sebenernya berkali-kali menyelipkan momen kecil yang justru menjadi alasan kenapa ceritanya tidak jatuh menjadi nihilisme.

Makan es krim.

Teman-teman yang bercanda.

Armin yang ingin melihat dunia.

Sasha yang suka makan.

Levi yang peduli pada anak-anak.

Hange yang tetap bisa antusias terhadap Titan.

Jean yang jatuh cinta.

Connie yang suka melakukan hal konyol.

Semua hal kecil itu penting.

Karena di tengah dunia yang terus mengatakan bahwa manusia harus membunuh agar bisa bertahan hidup, karakter-karakter ini tetap menemukan alasan untuk hidup.

Dan mungkin itu satu-satunya bentuk perlawanan yang benar-benar berarti. Bukan menghancurkan dunia. Tapi tetap menemukan sesuatu yang layak dicintai di dalamnya.


Masuk ke bagian soundtrack. Soundtrack-nya juga bukan sekadar background music. Dan ngomongin Attack on Titan tanpa ngomongin musik rasanya hampir mustahil.

Hiroyuki Sawano dan Kohta Yamamoto benar-benar memahami bahwa musik di serial ini harus terasa seperti bagian dari identitas dunianya.

“ətˈæk 0N tάɪtn”

“Vogel im Käfig”

“YouSeeBIGGIRL/T:T”

“Call of Silence”

“Red Swan”

“My War”

“Footsteps of Doom”

“To You 2,000… or… 20,000 Years From Now”

Ini bukan soundtrack yang cuma muncul supaya adegan terasa lebih epic. Musiknya ikut membentuk skala emosional cerita.

Di awal, musiknya membuat pertarungan melawan Titan tidak hanya terasa seperti perang umat manusia melawan sesuatu yang jauh lebih besar, tapi melawan sesuatu yang mustahil dikalahkan.

Kemudian semakin jauh kita masuk ke cerita, musiknya berubah menjadi sesuatu yang lebih tragis.

Dan ketika Rumbling datang, “Footsteps of Doom” bukan membuat Eren terasa seperti superhero. Tapi seperti kiamat.

Langkah kaki para Colossal Titan menjadi semacam metronom kehancuran. Tidak ada victory lap. Tidak ada perasaan “YES, EREN MENANG.” Yang ada cuma rasa ngeri.


Visualnya juga berkembang seiring perubahan cerita. Ini salah satu alasan saya sulit menyebut Attack on Titan sekadar anime action.

Visualnya berkembang bersama perspektif ceritanya.

Season awal terasa claustrophobic.

Tembok.
Gang sempit.
Hutan.
Titan.
Vertical maneuvering.
Kita selalu merasa manusia kecil dan terjebak.

Kemudian dunia terbuka..
Ada laut.
Ada kota Marley.
Ada medan perang.
Ada kapal.
Ada pesawat.
Ada dunia yang jauh lebih luas daripada yang pernah dibayangkan Eren.

Dan kemudian ketika Rumbling terjadi, skala itu kembali dibuat absurd. Manusia yang sejak awal terlihat tidak berdaya akhirnya memiliki kekuatan untuk menghancurkan dunia.

Ironisnya, semakin besar kekuatan Eren, semakin kecil dirinya terasa.
Dia yang dulu ingin melihat dunia akhirnya menjadi alasan dunia tidak bisa melihat hari esok.

Ending-nya memang tidak akan pernah bisa memuaskan semua orang. Saya bisa memahami kenapa ending Attack on Titan membuat sebagian orang frustrasi.

Setelah semua buildup, kita mungkin berharap jawaban yang lebih bersih dan menenangkan.
Kenapa semua ini terjadi?
Apakah Eren benar-benar bebas?
Apa sebenarnya maksud Ymir?
Kenapa harus seperti itu?

Tetapi Attack on Titan memang tidak pernah dibangun sebagai cerita dengan jawaban yang bersih. Dari awal sampai akhir, ceritanya bicara tentang manusia yang tidak bisa mendapatkan jawaban sederhana untuk masalah yang kompleks.

Jadi ending yang ambigu dan pahit terasa cukup konsisten.
Eren tidak menyelamatkan dunia. Dia juga tidak sepenuhnya menghancurkannya.
Dia membeli waktu. Dia memberikan kesempatan kepada teman-temannya.
Dan bahkan itu pun tidak menjamin apa-apa.
Karena perdamaian bukan hadiah yang bisa diwariskan begitu saja.
Perdamaian harus dipelihara.
Sejarah harus diingat.

Dan kebencian harus terus dilawan.
Kalau tidak, semuanya akan berulang.

“As long as there are men, there will be Titans.”

Kalau harus merangkum Attack on Titan dalam satu gagasan, mungkin itu.
Manusia dalam sisi terjahatnya, pada hakikatnya selalu mencari alasan:
Alasan untuk perang.
Alasan untuk balas dendam.
Alasan untuk membunuh.
Alasan untuk menguasai.
Alasan untuk melindungi.
Dan yang paling berbahaya adalah ketika alasan tersebut terasa masuk akal karena manusia jarang melihat dirinya sebagai monster.

Semua orang merasa dirinya protagonis dalam ceritanya sendiri.
Eren adalah protagonis bagi dirinya.
Reiner juga.
Gabi juga.
Marley juga.
Eldia juga.
Israel juga. (beneran..)

Bahkan orang-orang yang melakukan kekejaman biasanya punya cerita yang membuat tindakan mereka terasa masuk akal bagi diri sendiri.

Itulah mengapa Attack on Titan begitu kejam.
Dia tidak memberi kita villain yang gampang dibenci. Series ini kasih kita manusia biasa sebagai villain.

Dan manusia jauh lebih menakutkan.


Kesimpulan

Buat saya, Attack on Titan bukan cuma salah satu anime terbaik yang pernah dibuat. Ini salah satu serial terbaik yang pernah saya tonton.
Bukan karena setiap keputusan ceritanya sempurna.
Bukan karena ending-nya pasti jadi bahan diskusi.
Bukan juga karena visual kerennya selalu meningkat setiap season.

Tapi karena sangat sedikit serial yang berani mengambil premis sesederhana “manusia melawan monster” lalu mengubahnya menjadi pembahasan sepanjang puluhan episode tentang politik, sejarah, perang, propaganda, trauma, nasionalisme, kebebasan, determinisme, cinta, dan sifat asli manusia.

Dan yang paling mengesankan adalah semuanya terasa seperti satu cerita yang sama.
Bukan kumpulan twist yang ditempel satu sama lain. Clue dari awal punya makna di akhir. Setiap pembunuhan punya konsekuensi.
Hero bisa menjadi villain.
Victim bisa menjadi pelaku.

Dan monster ternyata cuma manusia yang terlalu lama diberi alasan untuk membenci.
Saya suka bagaimana cara Attack on Titan tidak memberi kita jawaban nyaman.
Dia justru meninggalkan satu pertanyaan yang jauh lebih mengganggu:
kalau kita hidup di dunia seperti Eren, dengan sejarah yang sama, trauma yang sama, ketakutan yang sama, dan orang-orang yang kita cintai terus berada dalam bahaya, apakah kita benar-benar yakin akan memilih arah hidup berbeda?
Mungkin itu alasan kenapa serial ini susah dilupakan.
Karena setelah semuanya selesai, kita tidak cuma meninggalkan Paradis.
Kita membawa sedikit Paradis pulang bersama kita.

Dan mungkin, setelah 2.000 tahun, setelah 20.000 tahun, manusia masih akan melakukan hal yang sama.
Mencintai.
Takut.
Membenci.
Membunuh.
Memaafkan.
Lalu mengulang semuanya lagi.
What a fucking masterpiece.