Film Terbaik di 2026 yang Wajib Kamu Tonton (Sejauh Ini..)
2026 emang masih belum selesai, jadi rasanya agak sok tau kalau sekarang sudah sibuk menentukan. Tapi setidaknya kita sudah bisa mengukur beberapa kualitas film yang rilis tahun ini. Dan sejauh ini? Lumayan greget.
Yang menarik, geliatnya bukan cuma datang dari film-film franchise yang tinggal pasang logo dan lempar trailer, lalu menunggu penonton datang. Tapi yang bikin menarik adalah cukup banyak film komersial yang masih terasa seperti tontonan yang memang dibuat untuk dinikmati. Dan film independen juga lagi nggak mau kalah. Banyak yang datang dengan ide aneh, berani, dan sedikit sinting, tapi justru di situ serunya.
Berikut adalah pilihan film terbaik 2026 sejauh ini versi Flickmags. Kumpulan film yang sejauh ini paling berhasil bikin kami duduk mikir, ketawa, merinding, atau sekadar bilang, “oke, yang ini memang bagus.”
15. Toy Story 5

Toy Story 5 somehow masih punya alasan buat eksis, dan ternyata alasannya cukup lucu, AI. Kali ini Woody memang nggak jadi pusat cerita, tapi konflik antara mainan dan teknologi baru bikin seri ke 5 ini surprisingly relevan pada kehidupan sekarang ini. Humor-nya juga balik tajam, terutama ketika para mainan mulai berhadapan dengan dunia yang menganggap mereka sudah ketinggalan zaman. Setelah sekuel ke 4 yang kelihatannya cuma buat perpanjangan umur franchise, Toy Story 5 ini nggak cuma numpang jualan nostalgia, tapi benar-benar punya ide baru yang bikin perjalanan para mainan ini terasa belum sepenuhnya selesai.
14. Marty Supreme

Berisik, menyebalkan, tapi entah kenapa nagih banget. Timothee Chalamet sepertinya sebelum memainkan karakter Marty dia kebanyakan minum kopi, karena nggak punya tombol rem. Dia yakin dunia wajib ngikutin ambisinya buat jadi raja pingpong. Josh Safdie bikin pacingnya ngebut dari awal sampai akhir dengan penuh hustle dan masalah goblok. Sambil disisipi karakter-karakter ajaib. Hebatnya, film ini nggak pernah maksa kita buat suka Marty, tapi Chalamet cukup sinting buat bikin kita tetap pengin lihat sejauh mana bajingan ini bakal melangkah.
13. The Furious

Film ini nggak punya waktu buat basa-basi. Anak diculik, polisi nggak becus nyari, Joe Taslim muncul, lalu sisanya basically orang-orang saling hajar sampai badan kita yang nonton rasanya ikut pegal. Yang paling gokil adalah koreografi fightnya, gerakannya ngalir terus dan kamera cukup membiarkan kita benar-benar lihat siapa menendang siapa, tanpa dipotong jadi serpihan close-up. Ceritanya memang tipis banget, tapi siapa juga yang datang nonton film ini buat plot ketika ekspektasi sebenarnya mau nonton ulang The Raid?
12. 28 Years Later: The Bone Temple

Yang bikin The Bone Temple menarik justru karena film ini kayak sudah capek sama aturan main film zombie. Nia DaCosta membiarkan ceritanya nyasar ke wilayah yang lebih liar, lebih disturbing, dan kadang absurd sampai kita sendiri nggak yakin harus takut atau malah ketawa. Jack O’Connell jelas jadi salah satu highlight paling gila di sini. Ralph Fiennes juga memberikan energi yang jauh lebih aneh daripada yang mungkin kita harapkan dari franchise ini. Lanjutan cerita 28 Years Later jadi semacam mutasi kecil yang bikin dunia Danny Boyle terasa makin luas dan makin nggak waras.
11. Send Help

Seorang bos toxic terdampar ke pulau terpencil bareng karyawan yang selama ini dia remehkan. Premisnya simple, eksekusinya luar biasa keren. Rachel McAdams gila sih di sini, awalnya awkward dan terlalu cheerful, lalu pelan-pelan berubah jadi survivalist yang makin savage tanpa kehilangan sisi manusianya. Sam Raimi sebagai sutradara juga kelihatan banget have fun kembali ke habitatnya yang suka gore, bikin aktornya muntah, berdarah-darah, semuanya dihajar sampai filmnya terasa kayak naik wahana ekstrim. Plotnya memang makin lama makin edan, tapi justru kekacauan itulah yang bikin Send Help jadi tontonan yang nasty dan satisfying.
10. Backrooms

Settingnya hanya bermodalkan lorong kuning, lampu neon menyebalkan, dan monster aneh, tapi Kane Parsons ternyata punya banyak banget amunisi di balik konsep sesimpel itu. Chiwetel Ejiofor bikin Clark terasa kayak manusia yang sudah terlalu lama terjebak di kepalanya sendiri, sampai Backrooms-nya cuma jadi bentuk fisik dari hidupnya yang muter-muter di tempat. Yang bikin serem justru bukan monsternya, tapi perasaan nggak bakal pernah bisa keluar dari ruang yang terus berubah dan makin bikin waras ikut rontok. Parsons sukses mengubah creepypasta internet jadi horor yang berisi dan tetap creepy.
9. Na Willa

Menonton film ini seperti membuka album foto masa kecil yang entah kenapa tiba-tiba bisa gerak dan ngajak kita main di dalamnya. Dunia kecil Willa terasa polos, ramai, colorful, dan penuh rasa penasaran, diperankan oleh Luisa Adreena yang benar-benar menggemaskan. Sutradara Ryan Adriandhy juga pinter banget bikin hal-hal sederhana seperti main bareng teman, belajar baca, sampai minum soda terasa punya magisnya sendiri. Yang paling enak, film ini nggak sok menggurui soal masa kecil, tapi pelan-pelan nunjukin gimana dunia yang tadinya terasa aman mulai memperkenalkan Willa pada kebohongan, rasisme, kehilangan, dan perubahan.
8. Blue Heron

Awalnya kelihatan seperti film nostalgia masa kecil yang kalem-kalem aja, tapi pelan-pelan ceritanya belok dan tiba-tiba menusuk. Sophy Romvari punya cara yang cakep banget buat mengingat masa lalu, kamera worknya natural, nggak sok dramatis, seolah kita cuma ngintip kehidupan Sasha dari kejauhan. Yang paling ngena justru cara film ini melihat Jeremy, bukan sekadar sebagai anak bermasalah, tapi sebagai manusia yang kadang bikin ricuh dan di saat lain bisa begitu manis. Begitu semua potongan ceritanya mulai nyambung, Blue Heron sukses bikin hati remuk dengan cara yang kalem tapi dahsyat.
7. The Invite

Cerita tentang dua pasangan yang sama-sama punya masalah, terus dipaksa duduk satu meja dan pura-pura semuanya baik-baik aja. Seth Rogen di sini lucu banget, tapi yang bikin menarik justru cara dia mengubah Joe dari cowok sarkastis yang nyebelin jadi sosok yang ternyata capek dan lumayan menyedihkan. Olivia Wilde si jenius, double job jadi sutradara dan juga aktor utama. Dia sangat lihai menjaga tempo dinner kacau empat orang ini tetap ngebut, dengan dialog tumpang tindih dan adu bacot yang makin lama makin brutal. Hasilnya adalah dark comedy tentang pernikahan, seks, dan rasa nggak puas sama hidup yang kadang lucu banget, kadang nyelekit, dan terasa terlalu dekat dengan kehidupan nyata.
6. Dear You

Dear You punya cerita yang sederhana tapi gampang banget nyangkut, apalagi buat yang punya keluarga atau leluhur dengan cerita merantau dan gak pernah pulang lagi. Film ini hidup banget ketika ngulik kehidupan para perantau Tionghoa di Thailand, lengkap dengan bahasa Teochew, makanan, tradisi, dan rasa kangen rumah yang terasa dekat banget buat penonton Asia Tenggara. Memang karakternya kadang terlalu baik seperti diprogram untuk “jangan bikin dosa”, tapi emosi dan sejarah yang dibawa film ini tetap punya daya hantam. Dear You mungkin agak terlalu blak-blakan soal pesannya, tapi kisah tentang orang-orang yang pergi demi hidup lebih baik lalu meninggalkan keluarga di belakang ini terasa relevan banget sampai sekarang.
5. Kokuho

Kokuho itu tipe film yang awalnya kelihatan kayak bakal jadi drama keluarga biasa, tapi terus pelan-pelan berubah jadi duel ego, ambisi, dan bakat yang bikin hubungan dua tokohnya makin ruwet. Ryo Yoshizawa dan Ryisei Yokohama punya chemistry yang bikin hubungan Kikuo dan Shunsuke terasa kayak saudara, sahabat, sekaligus dua orang yang dari awal memang ditakdirkan buat saling sikut. Lee Sang-il juga jago banget bikin kabuki kelihatan bukan sekadar pertunjukan tradisional, tapi sesuatu yang megah, aneh, cantik, dan emosional banget sampai ekspresi wajah dan gerakan kecil terasa ngomong lebih banyak daripada dialog. Film ini harus ditonton dengan niat karena memang durasi panjangnya kadang kerasa dan slowburn parah, tapi begitu Kokuho mulai bermain dengan ambisi dan harga yang harus dibayar buat jadi “national treasure”, film ini susah banget buat nggak dikagumi.
4. Project Hail Mary

Project Hail Mary ternyata bukan cuma film sci-fi soal nyelametin dunia, tapi malah paling asyik ketika berubah jadi buddy movie antara Ryan Gosling dan alien bernama Rocky. Ryan Gosling punya presence yang gak ngebosenin meski separuh waktunya dia harus berakting sendirian sambil meyakinkan kita kalau hubungan dengan makhluk CGI sekaligus puppet ini benar-benar punya chemistry. Phil Lord dan Christopher Miller sebagai sutradara juga nggak buru-buru untuk kasih ruang buat misteri, eksperimen, dan segala problem sainsnya berkembang sambil tetap nyelipin suspense, ledakan, dan visual luar angkasa yang cakep mampus. Dan hasilnya Project Hail Mary punya jiwa yang jauh lebih besar dari yang kelihatan, manis, lucu, sedikit bittersweet, dan diam-diam bikin hubungan manusia sama alien ini jadi bagian paling ngena.
3. Resident Evil

Resident Evil akhirnya dapat adaptasi yang ngerti kenapa game ini seru, bukan cuma numpang tema zombie dan nama beken seperti Jill Valentine saja. Zach Cregger bikin semuanya terasa kayak lagi main game, dari karakter yang panikan, inventory yang berantakan, sampai berbagai monster absurd yang makin lama makin gore. Yang paling asyik justru referensi gamenya nggak norak, cuma diselipin sebagai easter egg kecil yang bikin fans bisa senyum sendiri. 95 menit, brutal, kocak, dan ngebut terus ga dikasih nafas. Resident Evil harus jadi contoh untuk siapa aja yang yang mau adaptasi video game dengan yang benar. Yang tahu persis DNA gamenya tanpa harus jadi cosplay video game.
2. The Odyssey

The Odyssey, literally film yang bikin kata “spektakuler” terasa kurang nampol, karena Nolan benar-benar ngegas sampai level IMAX-nya terasa kayak mau menelan layar sekalian. Suara Cyclops dibuat bombastis sampai gendang telinga mau pecah. Tapi di balik laut luas, perang, monster, dan segala kemegahan itu, Nolan masih punya sisi personal yang kuat lewat Odysseus yang capek, dihantui rasa bersalah, dan cuma ingin pulang. Matt Damon pas banget jadi sosok yang kelihatan perkasa dari jauh tapi makin dekat malah kelihatan remuk. Meski pacing nya agak melelahkan untuk diikuti di durasi tiga jam, tapi kalau hasilnya epik segede ini dan tetap punya hati, sangat layak untuk ditonton.
1. Obsession

Curry Barker bener-bener tahu cara bikin penonton nggak nyaman, terutama lewat penampilan Ind Navarette yang gila sih, cuma modal ekspresi dan senyum yang makin lama makin terasa salah. Ada satu momen ketika kamera nge-lock wajahnya cukup lama sampai saya malah ketawa kecil karena saking awkward dan creepy-nya. Tapi Navarette nggak cuma jualan creepy, ada kesan rentan di balik karakternya yang bikin permainan soal consent dan kontrol di film ini jadi makin menarik. Obsession akhirnya jadi salah satu kejutan horor paling asyik tahun ini, tipe film yang selesai ditonton tapi masih nongkrong di kepala dan jadi bahan diskusi menarik.

Leave a Reply