(500) DAYS OF SUMMER (2009)
Joseph Gordon-Levitt (Tom), Zooey Deschanel (Summer), Geoffrey Arend (McKenzie), Chloë Grace Moretz (Rachel), Matthew Gray Gubler (Paul), Clark Gregg (Vance)
Sutradara: Marc Webb | Penulis: Scott Neustadter, Michael H. Weber | Genre: Comedy, Romance | Sinematografi: Eric Steelberg | Musik: Mychael Danna, Rob Simonsen
Tom Hansen percaya bahwa hidupnya akan terasa lengkap ketika menemukan perempuan yang tepat. Keyakinan itu makin kuat ketika dia bertemu Summer Finn, perempuan yang sejak awal justru tidak percaya pada hubungan serius. Keduanya tetap dekat, menghabiskan waktu bersama, dan perlahan Tom masuk ke hubungan friendzone yang batasnya tidak pernah benar-benar jelas.

Ada satu hal yang bikin 500 Days of Summer tetap relatable sampai sekarang: kadang kita bukan benar-benar jatuh cinta sama seseorang, tapi memaksakan untuk harus memiliki hubungan dengan orang tersebut. Tom Hansen (Joseph Gordon-Levitt) mungkin merasa dirinya sedang menjalani great love story, padahal kalau dilihat dari sudut pandang Summer (Zooey Deschanel), ya… mungkin dia cuma sedang menjalani hubungan yang dari awal memang tidak pernah dijanjikan ke mana-mana.
Tom adalah greeting card writer yang sebenarnya ingin jadi arsitek. Dia tipe orang yang percaya banget sama konsep the one, soulmate, takdir, dan segala paket romantis lainnya. Summer justru kebalikannya. Dia sudah bilang dari awal kalau dia tidak percaya relationship dan tidak mau memberi label apa pun pada hubungan yang dia jalani. Masalahnya, Tom mendengar perkataan Summer, tapi tidak benar-benar mempercayainya. Dia lebih percaya pada chemistry yang mereka punya. Classic mistake.
Yang menarik, film ini tidak pernah buru-buru menentukan siapa yang benar dan siapa yang salah. Tom memang lovable, tapi dia juga agak delusional. Summer memang charming, tapi dia juga bisa frustrating. Hubungan mereka tidak berjalan berdasarkan formula rom-com standar. Tidak ada jaminan bahwa dua orang yang punya chemistry otomatis cocok untuk bersama. Kadang dua orang bisa genuinely care satu sama lain, have fun together, bahkan terasa perfect selama beberapa waktu, tapi tetap tidak berakhir sebagai pasangan.

Struktur ceritanya juga salah satu hal paling fun dari film ini. Marc Webb tidak menceritakan 500 hari hubungan Tom dan Summer secara lurus dari A ke Z. Timeline-nya loncat-loncat, maju mundur, dari hari ketika mereka masih awkward sampai fase ketika semuanya mulai jadi cerita horror bagi Tom. Awalnya memang sedikit bikin kita harus catch up, tapi makin lama justru terasa pas. Karena begitulah cara kita mengingat sebuah hubungan. Kita jarang mengingatnya secara kronologis. Yang muncul malah random moments. First meeting, first kiss, satu malam yang memorable, pertengkaran paling buruk, sampai momen ketika semuanya akhirnya terasa berbeda.
Dan film ini cukup pintar untuk membuat kita melihat semuanya dari perspektif Tom. Artinya, apa yang kita lihat belum tentu seluruh kebenaran. Kita ikut mengidolakan Summer karena Tom mengidolakannya. Kita ikut merasa hubungan mereka special karena Tom merasa begitu. Bahkan beberapa momen yang awalnya terlihat romantis kemudian terasa sedikit berbeda ketika kita melihat konteksnya. 500 Days of Summer sebenarnya cuma ingin menunjukkan betapa gampangnya kita salah membaca sebuah hubungan

Joseph Gordon-Levitt benar-benar pas memerankan Tom. Tom bisa annoying, pathetic, sweet, funny, desperate, dan genuinely heartbreaking dalam satu paket. Dia tidak memainkan Tom sebagai korban patah hati yang harus dikasihani terus-menerus. Ada banyak momen ketika kita bisa melihat bahwa Tom sendiri ikut berkontribusi terhadap kehancuran hubungan mereka. Dia terlalu sibuk mengejar versi Summer yang ada di kepalanya sampai lupa mengenal Summer yang sebenarnya.
Lalu, siapa lagi artis dunia ini yang bisa perfect memerankan tokoh Summer selain Zooey Deschanel?. Karakternya memang gampang sekali dijadikan manic pixie dream girl kalau filmnya ditulis dengan malas. Tapi 500 Days of Summer justru perlahan membongkar fantasi itu. Summer bukan mysterious dream girl yang datang untuk menyelamatkan hidup Tom. Dia cuma perempuan biasa dengan perasaan, pilihan, dan ekspektasinya sendiri. Bahwa Tom tidak mendapatkan apa yang dia inginkan bukan berarti Summer otomatis menjadi villain.
Secara visual, filmnya juga punya personality yang kuat. Marc Webb datang dari dunia music video, dan keliatan banget dari cara film ini bermain dengan montage, framing, color, musik, sampai sequence yang terasa sangat pop. Salah satu contohnya adalah momen ekspektasi versus realita yang masih jadi salah satu sequence paling memorable dari film ini. Filmnya stylish, tapi tidak sampai terasa sibuk sendiri. Bahkan ketika sedang sangat cute, tetap ada sedikit rasa melancholy di bawah permukaannya.
Soundtrack-nya juga bukan sekadar background, tapi bagian dari emotional language film ini. Dari The Smiths sampai Regina Spektor, semuanya membantu membangun dunia Tom yang penuh nostalgia, romantic fantasy, dan sedikit delusional. Ada beberapa adegan yang sebenarnya biasa saja, tapi jadi jauh lebih memorable karena pilihan musiknya.
Yang membuat 500 Days of Summer tetap menarik ditonton sampai hari ini bukan karena film ini punya jawaban soal cinta. Justru sebaliknya. Film ini ngerti bahwa kadang kita memang tidak mendapatkan closure yang kita mau. Tidak semua relationship gagal karena seseorang jahat. Tidak semua breakup membutuhkan villain. Kadang timing-nya salah. Kadang ekspektasinya beda. Kadang satu orang sudah berada di tempat yang berbeda sementara yang satunya masih sibuk berharap.
Dan mungkin itu yang paling painful dari film ini. Tom tidak cuma kehilangan Summer. Dia juga harus kehilangan fantasi tentang bagaimana seharusnya hidupnya berjalan. Dan 500 Days of Summer juga bukan cuma film tentang gagal move on. Ini film tentang belajar membedakan antara seseorang yang benar-benar kita kenal dengan seseorang yang kita proyeksikan menjadi apa yang kita inginkan.
Rom-com yang kelihatannya cute, quirky, dan dipenuhi killer soundtrack, tapi diam-diam cukup menyeramkan soal cara manusia salah membaca cinta.




Leave a Reply