Marvel Gagal Membuat Blade, dan Kevin Feige Harus Bertanggung Jawab

Blade seharusnya menjadi salah satu proyek paling menarik Marvel Studios. Mahershala Ali sudah diumumkan sebagai pemeran utama sejak 2019, tetapi tujuh tahun kemudian film tersebut masih belum juga hadir di layar. Yang terjadi justru rangkaian penundaan, pergantian sutradara, perubahan penulis dan revisi cerita yang membuat proyek ini semakin terlihat kehilangan arah.

Mahershala Ali kini secara terbuka mengakui bahwa dirinya sependapat dengan penilaian Kevin Feige yang menyebut perjalanan Blade sebagai sebuah kegagalan. Pernyataan itu terasa semakin telak karena Mahershala Ali bukan sekadar menunggu di pinggir lapangan. Ia menghabiskan waktu untuk berlatih berbagai teknik pertarungan sword work, mengalami cedera lutut, bahkan memindahkan keluarganya ke Atlanta untuk mempersiapkan produksi yang akhirnya terus tertunda.

Masalah terbesar Marvel bukan sekadar bahwa Blade mengalami masalah produksi. Masalahnya adalah proyek tersebut sudah diumumkan kepada publik ketika fondasinya tampaknya belum benar-benar siap. Marvel Studios memperkenalkan Mahershala Ali sebagai Blade di Comic-Con 2019 dan menjadikan film tersebut bagian dari masa depan MCU. Setelah itu, proyek justru berkali-kali mencari bentuknya sendiri.

Sutradara Bassam Tariq keluar dari proyek. Yann Demange kemudian mengambil alih. Penulis berganti, konsep cerita berubah, jadwal produksi mundur, dan tanggal rilis berkali-kali dipindahkan sebelum Disney akhirnya menghapus Blade dari kalender rilis pada 2024.

Kevin Feige pernah menjelaskan bahwa Marvel tidak ingin sekadar memasukkan Mahershala Ali ke dalam kostum Blade dan membunuh para vampir. Mereka menginginkan film yang benar-benar bagus. Standar tersebut tentu masuk akal. Namun justru di situlah persoalannya. Jika sebuah studio sebesar Marvel Studios membutuhkan bertahun-tahun untuk menemukan cerita yang dianggap layak, mengapa proyek tersebut diumumkan sebelum visi kreatifnya benar-benar matang?

Blade juga bukan karakter yang membutuhkan formula cerita yang rumit. Identitasnya sudah sangat jelas. Ia adalah karakter Marvel dengan akar horor dan aksi yang kuat, serta memiliki sejarah layar lebar melalui film yang dibintangi Wesley Snipes. Mahershala Ali bahkan pernah membayangkan proyek tersebut memiliki bobot seperti Black Panther. Namun Marvel tampaknya tidak pernah benar-benar menemukan bentuk yang konsisten untuk mewujudkan ambisi tersebut.

Situasi ini memperlihatkan kelemahan lain dari sistem Marvel Studios. Setelah bertahun-tahun membangun mesin duit, proses kreatif terkadang terasa seperti bagian dari sistem produksi yang terlalu besar untuk bergerak dengan cepat. Sebuah proyek diumumkan, tanggal rilis ditetapkan, lalu cerita dan kreatornya terus menyesuaikan diri setelahnya.

Yang paling ironis adalah bagaimana kegagalan Blade justru membuka jalan bagi Mahershala Ali untuk mengerjakan proyek lain bersama Bassam Tariq. Mahershala Ali kini bahkan mengatakan bahwa ia merasa bersyukur Blade tidak pernah terjadi dalam bentuk yang sebelumnya direncanakan.

Marvel Studios masih bisa membuat Blade. Namun setelah semua kekacauan ini, pertanyaan yang lebih menarik bukan apakah mereka mampu membuat film tersebut. Pertanyaannya adalah mengapa sebuah studio dengan sumber daya sebesar Marvel membutuhkan waktu bertahun-tahun hanya untuk menentukan film seperti apa yang sebenarnya ingin mereka buat.